Indonesia memang surganya kuliner, tak akan pernah habis membahas ragam kuliner nusantara di Indonesia. Nah kuliner kali ini berasal dari wilayah paling timur Indonesia yakni Papua yang terkenal dengan julukan Bumi Cendrawasih.

Seperti kita tahu, selain terkenal akan keindahan dan kekayaan alamnya yang luar biasa, ternyata Papua juga memiliki beberapa sajian khas yang menggugah selera. Beberapa sajian khas Papua ini mungkin bisa ditemukan juga sebagai makanan khas Maluku. Ya selain karena secara geografis jaraknya berdekatan, Papua dan Maluku juga berbagi beberapa kesamaan termasuk kulinernya.

Yuk ah Sobat Halal kita intip dulu apa saja sajian khas Papua itu sebelum kita cicipi.

1. Papeda

Papeda (via instagram @mdnfoodstory)

Makanan ini merupakan sajian turun temurun tiap generasi. Papeda terbuat dari tepung sagu, rasanya cenderung tawar. Namun, di Papua makanan ini dimakan bersama ikan bakar atau ikan berkuah kuning.

Selain itu, bisa juga dimakan bersama parutan kelapa tua yang sudah dibubuhi sambal. Aduhai enaknya!

2. Ikan Bakar Manokwari

Ikan Bakar Manokwari
Ikan Bakar Manokwari (via thedelishrecipes.com)

Makanan ini mudah ditemukan di warung-warung makan di Papua. Ikan bakar ini tidak jauh berbeda dengan ikan bakar pada umumnya. Namun, bumbu dan sambalnya memiliki cita rasa yang berbeda karena hanya bisa ditemukan di Papua.

Ikan yang dipakai untuk masakan ini biasanya adalah ikan tongkol. Setelah selesai dibakar, ikannya lalu dilumuri dengan sambal khas yang digiling dan disajikan mentah. Warga di sana biasa menyebut sambal ini sebagai bumbu tabur.

3. Udang Selingkuh

Udang Selingkuh (via instagram @christianhaardi)

Meski namanya terkesan nyleneh, udang selingkuh merupakan makanan favorit di Papua yang kerap disajikan dengan saus tiram, saus padang, dan mentega.

Daging udangnya padat tapi terasa lembut dan manis. Konon dinamakan udang selingkuh karena spesies udang di Papua yang satu ini memiliki capit yang besar menyerupai kepiting sehingga seolah-olah hasil persilangan antara udang dan kepiting.

4. Aunu Senebre

Aunu Senebre (via borelies20.wordpress.com)

Aunu Senebre merupakan hidangan yang berasal dari teri dan nasi yang digoreng. Setelahnya di kukus bersama rajangan daun talas dan parutan kelapa sehingga memiliki tekstur yang tidak kering. Di Papua, Aunu Senebre ini kerap disantap bersama Papeda.

Belum seperti makanan tradisional lainnya yang populer sampai di luar wilayah daerahnya, Aunu Sanebre ini sejauh ini baru populer di kalangan masyarakat Papua saja.⁣ Padahal Aunu Senebre pernah terpilih menjadi salah satu nominator Anugerah Pesona Indonesia (API) II 2017 dalam kategori Makanan Tradisional Terpopuler.

5. Sagu Lempeng

Sagu Lempeng (via instagram @ira.kusumawardhani)

Sagu lempeng aslinya berasal dari Wamena, Papua, sehingga seringkali disebut juga sebagai roti khas Wamena. Makanan ini terbuat dari sagu yang dicetak dan dipanggang dalam bentuk persegi panjang selama 30-60menit dalam cetakan batu atau tanah liat bernama Forna. Dari hasil pembakaran ini tekstur sagu lempeng menjadi keras dan berwarna kecokelatan.

Rasa asli dari sagu lempeng ini tawar, tapi seiring perkembangan waktu rasanya mulai bervariasi seperti diberi isian gula untuk mendapatkan rasa manis. ⁣

Karena teksturnya agak keras, untuk menikmatinya adalah dengan cara mencelupkannya ke minuman panas, kopi, atau teh agar lebih lunak. ⁣⁣Hmmm jadi teman ngopi yang yummy deh.

6. Martabak Sagu

Martabak Sagu (via bosmeal.com)

Martabak sagu adalah salah satu makanan Khas Papua Barat, tepatnya dari dari Kabupaten Fakfak. Sedikit berbeda dengan martabak pada umumnya dibuat dari tepung terigu, martabak ini terbuat dari sagu yang dihaluskan dan kemudian digoreng dan diberikan sedikit taburan gula merah di dalamnya. Rasanya manis dan nikmat!

7. Rontart

Rontart (via instagram @lontarlestari)

Rontart alias Kue Lontar merupakan kue yang terbuat dari telur, penampilannya tidak jauh berbeda dengan pie susu. Kue ini sering disajikan di hari-hari besar atau perayaan khusus.

Rontart alias Kue Lontar sejenis kue egg tart yang menurut sejarah awalnya dibawa oleh orang-orang Belanda ke Papua pada masa lalu. Dalam bahasa aslinya, kue ini disebut dengan Rontart  yang berarti kue bundar. Tapi karena bagi warga lokal agak sulit pelafalannya maka penduduk Papua akhirnya menyebut kue ini menjadi kue lontar.

Vin S
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter.” ~ Dan Poynter

Berikan bintang kamu
[Total: 2 Rata-rata: 5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar