Rofi’ adalah seorang pebisnis di bidang printing yang berasal dari Purwodado, Grobogan, Jawa Tengah. Dia membuka Glory Screen Printing sebagai vendor sablon dan konveksi, sekaligus Glory SPS yang bergerak dalam penjualan perlengkapan sablon.

“Sebenernya ide buka bisnis ini muncul karena saya dan suami hobi beli kaos-kaos yang nyaman dipakai dengan sablon yang kualitasnya bagus,” terang Rofi’.

Bisnis sablon ini dimulai oleh suami Rofi’ pada tahun 2009, “waktu itu saya dan suami statusnya masih pacaran, terus tahun 2015 saya buka toko perlengkapan sablon setelah lulus kuliah.”

Selain ingin memberikan produk dengan kualitas sablon yang baik, Rofi’ dan suami juga mengelola bisnis tersebut untuk selalu berproses, berprogres hingga nanti tercapai tujuannya, yakni sukses. Bagi mereka setiap proses wajib memiliki progres yang baik agar menjadi sukses,

“Harapan ke depannya kami segera punya workshop dan hunian pribadi yang terpisah sekaligus memaksimalkan bisnis kami untuk semua sektor.”

Bicara soal keyakinan, Rofi’ dan suaminya optimis terhadap keberlangsungan usahanya, sebab menurut mereka sandang merupakan kebutuhan pokok manusia yang tidak akan ditinggalkan.

“Kalau ditanya soal keunggulan patokan saya kepuasan konsumen, yang jelas kami sudah berusaha memberikan material dan hasil kerja terbaik kami. Termasuk pelayanan dari kami, standar kami adalah memberikan edukasi terkait material dan proses pembuatan hingga hasil akhirnya.

Edukasi yang kita berikan pun juga mengacu pada budget dan meterial pilihan konsumen. Jadi dari awal, konsumen sudah memahami material dan proses kerja tersebut,” terang Rofi’ panjang lebar.

Dalam menjalankan bisnis, Rofi’ dan suaminya juga kerap melakukan aktualisasi diri di bidang yang mereka geluti. Mereka banyak melakukan sharing dengan komunitas bisnis sejenis dan memiliki mentor. Bagi mereka sendiri bisnis sablon ibarat bisnis mencari masalah, “ya karena konsumen punya karakter berbeda, desain yang diajukan pun tingkat kesulitannya juga ikut berbeda.”

Sepanjang perjalanan mengelola bisnis printing dan konveksi tersebut, tidak jarang mereka menghadapi tantangan demi tantangan, “sebenarnya langkah edukasi di awal adalah bentuk preventif kami agar tidak terjadi kesalahan komunikasi antara pemesan dan vendor.

Apalagi kalau adalah lemparan order dari broker ya, dari pengalaman kami kalau brokernya ‘nakal’ semua beban produksi dan kerugian kita yang tanggung. Jadi kalau sudah urusan sama broker, kami sudah menerapkan adanya surat perjanjian kerjasama yang jelas.”

Melalui surat perjanjian kerjasama tersebut, Rofi’ dan suami mengaku sangat terbantu dalam menghadapi broker-broker yang ‘nakal’. Dalam surat tersebut menjelaskan secara detail tentang produk yang dipesan, agar meminimalisir kesalahpahaman dan keruguan bagi kedua belah pihak.

Selain itu, surat tersebut juga sebagai pedoman untuk menaati komitmen yang telah disepakati di awal pemesanan, “soalnya yang dipertaruhkan adalah nama perusahaan yang sudah kami rintis sejak lama, salah langkah bisa rusak dan kehilangan kepercayaan dari pelanggan kan repot.”

Bisnis yang mereka jalankan selama ini didukung oleh pasangan, keluarga dan sahabat. Ada banyak energi positif yang ditularkan kepada mereka berdua, termasuk wejangan untuk tidak meninggalkan ibadah, mengingat sedekah, dan selalu memanusiakan manusia di mana pun berada.

Tidak ketinggalan zaman, Rofi’ dan suami selama ini melakukan promosi secara getuk tular, lewat media sosial hingga menggunakan ads untuk kemajuan usahanya,

“Memang hasilnya tidak bisa langsung ya, mengingat kebutuhan pembuatan seragam atau kaos tidak setiap hari ada. Jadi promosi sudah kami lakukan, sisanya kami serahkan kembali terhadap kemauan dan kepuasan konsumen.

Dan karena kami mengedepankan kualitas, edukasi, bahan, design, dan hasil sablon ke konsumen, kami yakin konsumen semakin hari semakin pandai untuk menentukan kualitas barang yang akan mereka kenakan ataupun yang akan mereka berikan sebagai souvenir.”

Sebagai pelaku bisnis yang sudah cukup lama bergelut di bidang printing dan konveksi, Rofi’ dan suami memiliki prinsip untuk tidak membodohi konsumen, melainkan mengedukasi konsumen. Karena melalui edukasi tersebut dan kerja terbaik, calon konsumen akan merasa dilayani dengan baik dan tidak merasa ditipu.

Komunikasi visual dalam mengedukasi konsumen

“Selain itu, hindari mengeluh di media sosial bisnis, lebih baik memperbanyak usaha, doa, dan ikhlas menerima ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan untuk kita,” tutur Rofi’ saat mengakhiri percakapan.

Vin S
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter.” ~ Dan Poynter

Berikan bintang kamu untuk Glory Screen Printing
[Total: 4 Rata-rata: 5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar