AH Kitchen merupakan bisnis katering rumahan yang dibangun oleh Anelis Harusita yang akrab dipanggil Sita. Produk yang ditawarkan pun bervariasi, ada masakan nusantara, snack, desert, termasuk frozen food yang diolah tanpa MSG.

AH Kitchen mulai buka secara konsisten kurang lebih 3 tahun yang lalu. AH Kitchen sebenarnya sudah buka sejak lama. Namun, karena keterbatasan waktu dan SDM, Sita memutuskan untuk membuka saat ia memiliki waktu lebih. Di sela-sela mengurus rumah, 3 anak dan kegiatan sosial lainnya, ia tetap mengusahakan membuka AH Kitchen.

Sita sendiri membuka usahanya demi memenuhi kebutuhan hidup, sebagai ibu rumah tangga ia juga menyadari tantangan kian hari kian mencekik. Selain itu, ia juga lebih cocok bekerja di rumah dengan waktu fleksibel dibandingkan kerja kantoran, dengan demikian ia bisa membersamai pertumbuhan ketiga anaknya yang terkasih.

“Saya pecinta kuliner, mau bintang 5 sampai kaki 5 ya doyan semuanya. Dari situ saya sadar kalau kecintaan saya terhadap kuliner bisa memberikan saya penghasilan sendiri, bisa menghidupi keluarga kecil saya, nabung untuk anak-anak saya dan jalan-jalan, meskipun waktu dan tenaga terbatas, saya tetap mengupayakan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak.”

Selain penggiat kuliner, Sita sendiri memiliki hobi memasak. Ia bahkan mengakui, setelah memulai AH Kitchen Sita justru tidak bisa berhenti berjualan karena ketagihan. Sita pun tersadar bahwa berjualan menjadi kegiatan favoritnya, ia bisa belajar hal baru setiap hari, bertemu orang-orang baru, termasuk mengamati tren kuliner di Kota Salatiga.

Dari usaha inilah Sita mengaku selalu mendapat kepuasan tersendiri saat ia berhasil mengolah, menciptakan, dan menjual sesuatu.

“Selain ingin mengenalkan makanan yang sehat, saya ingin orang-orang yang makan makanan saya selalu ingat bahwa makan dan berbagi makanan adalah tindakan cinta untuk diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.”

Sita juga kerap melakukan riset pasar untuk menentukan market, termasuk menjaring pelanggan. Dalam bisnis kuliner Sita menempatkan dirinya untuk bisa se-fleksibel mungkin agar dia tidak merugi atau justru kehilangan kesempatan untuk meraup keuntungan. Apa yang sedang menjadi trend dan diminati para pembeli sehari-harinya, akan menjadi menu yang ditawarkan AH Kitchen.

Selain itu, Sita tidak tanggung-tanggung untuk menyesuaikan harga berdasar budget konsumennya padahal makanan sehat pada umumnya kerap dibanderol dengan harga mahal.

“Pengennya AH Kitchen bisa memberi warna baru di dunia kuliner meski pun makanan yang dijual tidak jauh berbeda dengan pedagang lainnya. Setidaknya melalui riset, produk AH Kitchen yang diolah dengan inovasi bisa sesuai dengan lidah dan dompet pasar.”

Tingginya minat terhadap kuliner baru-baru ini juga membuat Sita berpikir, bahwa ke depannya memang masih banyak ruang untuk inovasi dan personalisasi makananan. Termasuk untuk pemasaran, kesempatannya masih terbuka lebar.

Meskipun sejauh ini pemasaran sudah dilakukan secara online dan offline, Sita berencana untuk menerapkan metode lain untuk menarik perhatian pelanggan seperti mengadakan kegiatan masak eksperimental yang menggunakan beberapa responden untuk mencicipi makanan tersebut guna memetakan selera konsumen atau target market yang ia tuju. Sita sendiri juga percaya bahwa kuliner tidak akan pernah mati.

“Selalu akan ada produsen, penjual, dan pembeli, karena semua orang butuh makan dalam kondisi atau acara apapun setiap harinya, tugas saya menawarkan, mengolah dan menjamin kepuasan mereka. Selain itu, modal terjangkau dan pasarnya juga luas.”

Selain keyakinannya yang kuat untuk menggeluti bisnis kuliner tersebut,  dukungan dari suami, anak dan keluarganya merupakan suntikan motivasi bagi Sita. Sita juga mendapat dukungan yang luar biasa dari teman, rekan hingga kenalan yang ia kenal saat mulai menggeluti AH Kitchen dari awal, termasuk petugas daerah setempat yang sangat kooperatif saat dibutuhkan perannya mengingat mengurus izin edar dan hal lainnya bisa dikatakan perkara asing baginya saat memulai bisnis ini.

Tidak sekali-dua kali Sita mengalami ujian dalam menjalankan bisnis ini, cuaca, harga bahan baku, ketersediaan bahan, dan pelanggan pun kadang menjadi tantangan besar bagi usahanya.

“Kadang saya dibikin kalang kabut dengan bahan baku yang tiba-tiba melejit padahal lagi kebanjiran order, malah kadang juga gak ada bahannya sama sekali. Kalau sudah posisi seperti itu terpaksa saya terjun langsung ke lapangan dan berburu bahan, yang dipertaruhkan jelas tenaga dan waktu ekstra. Ninggalin anak-anak atau ngajak anak-anak kalau lagi kerja sama-sama gak sepele, ada aja tambahan ujiannya.”

Bagi Sita, untuk memulai dan menjalankan sebuah usaha, seseorang harus menjadi rajin dan konsisten.

“Jangan berhenti riset dan bereksperimen untuk menciptakan produk baru, resiko terbesar adalah ketika kita tidak mengambil resiko itu sendiri.”

Vin S
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter.” ~ Dan Poynter

Berikan bintang kamu
[Total: 5 Rata-rata: 5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar