Bagikan artikel ini

Angkringan mbah kaji merupakan model bisnis yang mengadaptasi konsep angkringan yang sudah menjadi ciri khas kota Jogja. Usaha ini dikelola oleh Susi dan adiknya, keduanya berasal dari Kota Yogyakarta, sejak September 2021 lalu.

Faktor utama yang membedakan angkringan ini dengan yang lain adalah tambahan beberapa sentuhan inovasi modern,

“Sebenarnya sama seperti angkringan lainnya, Angkringan Mbah Kaji menyediakan berbagai menu seperti nasi kucing, sate-satean, gorengan, wedang jahe, jahe susu, dan lain sebagainya, tapi kami lengkapi dengan fasilitas modern seperti wi-fi unlimited dan tempat yang nyaman untuk chill dan dilengkapi Netflix. Tujuannya yang nongkrong bersama teman dan keluarga jadi betah lalu kembali lagi besoknya.”

Selain memberikan inovasi pada fasilitas angkringan, makanan dan minuman Angkringan Mbah Kaji ini diolah berdasarkan resep otentik keluarga sebagai modal utama dalam usaha food and beverage, khususnya angkringan ini.

“Harapannya yang makan semakin menikmati makanan dan homesick-nya terobati, secara banyak perantau di Kota Jogja.”

Angkringan Mbah Kaji berada di lingkungan yang sangat strategis dan hal itu menjadi segmen pasar yang prospektif khususnya mahasiswa, keluarga muda, orang tua dan lainnya.

“Kita punya menu spesial yang tidak ada di angkringan pada umumnya, yaitu wedang jahe. Kebanyakan pelaku usaha angkringan wedang jahenya dibuat langsung banyak, tapi di angkringan kita wedang jahenya baru diseduh saat ada yang pesan.

Prosesnya juga khusus, teknik yang dipakai sudah turun temurun dipraktekkan dalam keluarga sehingga aroma, rasa dan manfaat pada jahe bisa dirasakan dengan baik. Nasi teri kita juga ciamik, bumbunya tidak seperti nasi kucing sambel teri yang sudah-sudah,” terang Susi.

Pada dasarnya angkringan ini merupakan perwujudan kasih sayang dan kreasi yang sehari-hari mereka lakoni,

“Pada dasarnya suka masak, lalu ada peluang dan market yang luas untuk usaha makanan jadi kami jadikan usaha keluarga.”

Dengan demikian, Susi dan adiknya sangat ingin memperkenalkan usahanya sebagai tempat hangat dan modern untuk mendapatkan quality time, “datang ke Angkringan Mbah Kaji bagaikan pulang ke rumah, karena rasa yang disajikan adalah rasa nyaman seperti di tengah keluarga sendiri dan kehangatan keluarga di dalamnya.”

Dalam beberapa tahun ke depan, Susi dan adiknya berharap usahanya menjadi salah satu tujuan wisata kuliner yang berkarakter dan ikonik di Yogyakarta, sehingga selalu dirindukan pelanggan. Selain itu, mereka berharap usahanya mampu mendongkrak perekonomian warga di sekitar, apalagi mereka getol karena yakin usahanya berpotensi besar.

Namun demikian, ada kalanya ujian hadir di tengah-tengah usaha mereka. Saat itu baru tahap awal buka angkringan, belum dikenal dan kemungkinan banyak yang masih sangsi dengan kualitasnya sehingga angkringan sangat sepi.

“Angkringan pernah tidak laku sama sekali dan tidak ada pengunjung. Kami kan jual makanan, kalo tidak laku kebanyakan harus dibuang karena tidak tahan lama. Belum lagi harus menggaji karyawan juga,” kenang Susi.

Belajar dari pengalaman tersebut, mereka mulai mencari celah dengan mengajak komunitas, teman dan saudara untuk main ke angkringan supaya terlihat ramai. Selain itu, mereka mencari tahu kesan dan mendengarkan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan rasa.

Namun, ujian datang kembali saat suami Susi kurang mendukung usahanya dan mulai ada persaingan tidak sehat dengan keluarga dari pihak suami,

“Belajar dari semua masalah yang datang, saya tetap jalankan selagi tidak bertentangan dengan konsep halal. Apalagi persaingan dalam usaha sudah bukan rahasia lagi, tinggal bagaimana menghadapinya. Saya jadi banyak belajar, introspeksi, fokus terhadap solusi dan plan ke depannya.”

Dalam usahanya, Susi sangat terdukung oleh kehadiran ibu dan adik-adiknya. Ia juga tidak segan menyebutkan nama Sekar, sahabatnya, “mereka selalu ada. Keluarga dan sahabat saya selalu mengambil alih peran saya saat saya tidak bisa handle angkringan sendiri, setia mendengar keluh kesah saya dan memberi dukungan penuh. Saya tak akan lupa itu.”

Uniknya, angkringan ini dipromosikan dengan metode world of mouth (WOM) alias gethok tular,  tidak banyak yang tahu istilahnya, tetapi metode pemasaran seperti ini biasa dilakukan dengan melakukan event-event khusus seperti nonton bareng film-film atau pertandingan bola nasional dan internasional. Dampaknya sejauh ini cukup baik dan bisa diterima oleh masyarakat, angkringan pun jadi lebih hidup dan yang utama ada pemasukan.

“Berdasarkan pengalaman pribadi, kalau mau usaha harus punya konsep, punya proyeksi dan konsisten melakukan setiap rencana. Selebihnya jeli dalam melihat peluang, berani keluar dari zona nyaman dan menjalin hubungan baik dengan para pelanggan,” ujar Susi mengakhiri ceritanya.

Vin S
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter.” ~ Dan Poynter

Berikan bintang kamu untuk Angkringan Mbah Kaji
[Total: 5 Rata-rata: 5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
1 Komentar
Terbaru
Terlama Paling Banyak Dinilai
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar