Sejak terjadinya pandemi Covid 19, semua pihak sangat peduli dengan pencegahan dan upaya-upaya pemutusan penyebaran Covid 19. Namun hiruk pikuk dan ketakutan banyak pihak akan Covid 19 terkadang melupakan salah satu penyakit tak kalah berbahayanya yang masih mengancam kesehatan masyarakat di Indonesia, yaitu Tuberkulosis atau TBC.

Padahal TBC merupakan penyakit menular yang menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia. Tahun 2019, sekitar 10 juta orang menderita tuberkulosis dan 1,4 juta meninggal akibat tuberkulosis. Data WHO Global Report pada tahun 2020 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk ke dalam 4 negara yang menyumbang 44% kasus TB global.

Jumlah pasien yang terdiagnosis TB antara bulan Januari – Juni 2020 di Indonesia mengalami penurunan, namun Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan angka kasus TB tertinggi di dunia. Dalam sebuah penelitian yang penulis lakukan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam tiga tahun terakhir jumlah kasus TB tertinggi di NTB berada di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur, mengingat ketiga kabupaten ini merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk tertinggi di NTB.

TBC disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis (MTB). Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru manusia disebut pulmonary TB. Paru-paru biasanya menjadi lokasi awal infeksi TBC. Tidak hanya di paru-paru, TBC juga dapat menginfeksi organ lain disebut extrapulmonary TB, salah satu organ yang dapat terinfeksi adalah organ limfe disebut limfadenitis tuberkulosis.

Tuberkulosis dapat ditularkan melalui udara dari pasien yang menderita tuberkulosis bakteriologis. Kasus yang tidak diobati dengan tepat dan maksimal dapat menginfeksi kurang lebih 10 orang per tahun. Orang–orang yang kontak dengan pasien TBC akan berisiko terinfeksi TB tetapi belum menderita sakit TBC, hanya sekitar 3,5 – 10% dari orang yang kontak dengan pasien TBC akan mengalami sakit TBC.

Program Penanggulangan TBC di Indonesia menggunakan salah satu strategi “penemuan aktif secara intensif dan masif berbasis keluarga dan masyarakat” yaitu dengan melakukan pelacakan dan investigasi kontak (IK) atau mencari siapa saja yang kemungkinan memiliki kontak erat dengan pasien TBC. IK ditujukan pada orang – orang yang kontak dengan pasien TBC dengan tujuan untuk menemukan kemungkinan adanya kasus baru dan mencegah penularan TBC.

Investigasi kontak dilaksnakan untuk semua penderita TBC yang terkonfirmasi bakteriologis dan TBC pada anak baik kontak serumah atau kontak erat. Kontak serumah merupakan kriteria untuk orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC dalam 3 bulan terakhir dan sering beriteraksi. Kontak erat merupakan kriteria untuk orang yang sering berinteraksi dengan penderita TBC namun tidak harus tinggal serumah dengan penderita TBC misalnya teman kerja, teman sekolah, maupun tetangga sekitar dalam kurun waktu 3 bulan terakhir.

Berikut kriteria investigasi kontak penderita TB:

  1. Kontak serumah atau kontak erat. Misalnya orang tua, keluarga, kerabat dekat, tetangga.
  2. Memiliki keluhan batuk.
  3. Memiliki gejala lain seperti sesak napas, berkeringat saat malam hari, demam meriang > 1 bulan.
  4. Memiliki faktor risiko seperti DM atau Diabetes Mellitus, lansia > 60 tahun, ibu hamil, perokok, dan pernah berobat TBC tapi tidak penuh 6 bulan pengobatan.

* Artikel ini ditulis untuk memperingati: World Tuberculosis Day, 24 Maret 2022: “Invest to End TB. Save Lives.”

dr. Fathul Djannah, SpPA | Universitas Mataram
Alumni FK Universitas Hang Tuah Surabaya dan PPDS Patologi Anatomi Universitas Airlangga Surabaya. Saat ini adalah Dosen di FK Universitas Mataram, NTB dan sedang mengikuti program doktoral di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Berikan bintang kamu
[Total: 3 Rata-rata: 5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar