Vea adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua buah hati. Setelah menikah dan memiliki momongan, ia memutuskan untuk resign dari kantor tempatnya bekerja. Vea mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk keluarga, apalagi setelah ia mengandung dan melahirkan. Aktivitas Vea lebih banyak di rumah, sehingga ia kerap berkreasi dan mencoba beberapa ide bisnis yang bisa dilakoni dari rumah sambil mengurus anak.

“Sebelumnya aku jual roti dan brownies, tapi masih jarang yang pesan, masih banyak dibantu teman-teman juga yang jajan, kalau brownies lebih sering titip jual di cafe teman.”

Vea mulai berbisnis sejak 2017, ia mengaku sempat menjadi dropshipper baju, menjadi produsen kerajinan tangan sampai sabun alami. Namun dengan pertimbangan yang sangat matang, akhirnya Vea memutuskan untuk menggeluti bidang kuliner yang sekarang ini dinamai Dapur Laris Borobudur.

Usaha kuliner dengan brand baru ini mulai ia rintis pada 20 Januari 2022, tentunya lebih sistematis dengan langkah pemasaran yang lebih strategis. Misalnya, ia mulai mendaftarkan usahanya ke Gofood dan aktif memasarkannya secara online.

“Kali ini aku memulai bisnis kuliner lagi dengan menu makanan harian seperti nasi ayam termasuk sambal dan lalap. Ambil momen mie instan yang sempat viral dengan racikan bumbu tambahan juga dan mie goreng ala Korea yang sekarang juga mulai banyak penikmatnya.”

Vea berharap, keputusannya kali ini bisa berkesinambungan dan bisa menghidupi kedua anaknya. Vea ingin sekali menjual menu-menu yang unik dan dinamis sehingga dapat mengikuti perkembangan jaman serta bertahan dari waktu ke waktu. Selain itu, terselip sebuah misi cinta lingkungan dalam usahanya, Vea menjual makanan agar tidak menambah sampah anorganik di lingkungan.

“Ada banyak hal yang ingin diraih. Ya memakmurkan keluarga, punya tabungan sekaligus dana darurat, bisa berbagi hasil untuk ibu, jalan-jalan sekeluarga, membantu sesama, termasuk pengen beli mobil sendiri biar jalan-jalan sama anak jadi lebih nyaman.”

Vea juga yakin usahanya kali ini akan berbuah manis dan berjalan dengan baik. Meski pun ia mengaku proses yang ia hadapi kali ini cukup berat, namun ia tidak sedikit pun ragu akan pertolongan dari Tuhan seperti yang ia terima selama ini.

“Aku udah usahakan semuanya, sisanya ya pasrah ke Tuhan.”

Usaha Vea berbasis di kawasan Borobudur, di mana area tersebut merupakan destinasi wisata yang terkemuka di dunia. Namun demikian, Vea menyimpulkan belum banyak warung yang menawarkan menu ayam oriental dan mie pedas ala Korea di tempat tersebut. Menu-menu yang ia tawarkan merupakan produk homemade, bahkan saat ini Vea tengah melakukan uji pembuatan chilli oil untuk menyempurnakan menu mie miliknya.

Kendala yang kerap Vea alami adalah pengaturan waktu, karena sebagai ibu rumah tangga dengan balita harus pandai curi-curi waktu untuk melakukan aktivitas lain.

“Seperti saat mengerjakan pesanan dream catcher dan makrame dulu, hanya bisa ketika anak tidur dan tengah malam. Pembuatan sabun alami juga tengah malam karena butuh suhu dingin dan harus jauh dari jangkauan anak-anak. Akhirnya kurang tidur dan paginya anak keteteran waktu sarapan. Jadi belum bisa terima pesanan banyak juga, promosi juga seadanya. Kalau sekarang yang betul-betul down karena masalah keluarga, mental kena, ngaruh ke fisik juga, tapi harus bangkit untuk menghidupi dua anak-anakku. Cuma mereka kekuatanku sekarang.”

Sampai saat ini Vea masih terus belajar mengatur waktu supaya semua kerjaan rumah bisa selesai dengan baik, terutama waktu untuk anak-anak juga harus pas agar mereka tidak merasa ditinggalkan. Tantangannya harus lebih disiplin waktu dan pantang menyerah memberikan pengertian ke anak agar bisa menerima dan memahami kegiatannya.

Namun, tak jarang Vea menyadari bahwa anak sulungnya yang belum dewasa terkesan dikondisikan dewasa lebih dini, karena harus bantu jaga anak bungsunya dan banyak mengalah untuk beberapa hal. Selebihnya, Vea lebih sering berserah kepada yang Kuasa agar dikuatkan dan dimudahkan dalam menjalankan aktivitasnya.

Dalam prosesnya, Vea senantiasa mendapat dukungan modal sekaligus promosi dari keluarga, terutama ibu, kakak dan adiknya.  Dukungan dari teman-temannya pun kerap ia terima, hal tersebut membuat Vea menjadi pribadi yang tahan uji.

Sejauh ini, meskipun dirasa belum maksimal, Vea sudah berusaha memasarkan produknya melalui media sosial, getok tular, hingga mengikuti event-event kuliner yang digelar oleh beberapa komunitas di Yogyakarta.

“Kalau usaha kemarin posting bisa dibilang Senin-Kamis karena dulu tidak fokus satu jenis saja, jadi yang tau masih di lingkungan teman-teman sendiri. Mungkin membingungkan juga, hari ini jual roti, besok sabun, tiba-tiba baju dan harus PO sebelumnya. Padahal tidak semua orang suka dengan sistem PO, kalau saya memilih PO karena belum mampu untuk stok barang. Dengan usaha yang sekarang karena lebih fokus, join go food jadi lebih kelihatan hasilnya.”

Setelah menjalani banyak hal selama menjalankan bisnisnya, Vea memiliki prinsip untuk tidak takut saat memulai usaha, “mungkin sudah berkali-kali coba masih belum beruntung, padahal kita juga tidak tahu dalam usaha keberapa pintu rejekinya akan dibuka. Mau jiplak usaha orang yang laris terus, kalau memang bukan rejeki ya hasilnya gak akan sama. Selalu libatkan Tuhan dan percayakan pada-Nya, sehebat-hebatnya rencana manusia tetap lebih hebat rencana Tuhan.”

Vin S
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter.” ~ Dan Poynter

Berikan bintang kamu untuk Dapur Laris Borobudur
[Total: 4 Rata-rata: 5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar