Ilustrasi foto oleh Artem Podrez [via Pexels]

Industri kosmetik dan perawatan pribadi (personal care) adalah salah sektor manufaktur yang tumbuh dan berkembang seiring gaya hidup masyarakat untuk produk-produk ini. Potensi pasarnya masih bisa dimaksimalkan melalui branding dan desain produk yang tepat serta akses pasar ke luar negeri masih terbuka lebar.

Sementara di pasar dalam negeri Indonesia sendiri, pasar kosmetik adalah salah pasar yang cukup menjanjikan bagi produsen. Hal tersebut paralel dengan postur demografi populasi penduduk Indonesia dan juga seiring dengan meningkatnya tren masyarakat untuk kembali ke alam (back to nature) sehingga bisa mendorong timbulnya permintaan pasar akan inovasi baru berupa kosmetik yang berbahan baku alami.

Dari data ekspor sampai bulan Oktober 2020 penjualan produk kosmetik nasional mencapai USD389,7 juta. Memang mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan tahun 2019 yang mencapai USD506,6 juta. Tapi dari sisi impor, juga mengalami penurunan dari USD803,6 juta pada tahun 2019 menjadi USD507,7 juta pada bulan Oktober 2020. Penurunan ini terutama diakibatkan oleh adanya pandemi Covid-19 yang membuat hampir permintaan di semua sektor industri mengalami penurunan.

Hingga tahun 2019, berdasarkan data resmi pemerintah ada 797 industri kosmetik besar dan industri kecil dan menengah (IKM) di Indonesia. Angka ini mengalami kenaikan dari sebelumnya 760 perusahaan. Dari total 797 industri kosmetik nasional ada 294 industri yang terdaftar di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)..

Dilihat secara komposisi skala industrinya, sekitar 95% adalah industri kosmetik Indonesia dengan skala kecil dan menengah dan hanya sekitar 5% yang merupakan industri kosmetik dengan skala besar. Meski begitu beberapa industri kosmetik yang berskala menengah dan besar beberapa diantaranya sudah mampu mengekspor produknya ke luar negeri seperti ke Timur Tengah, ASEAN, Afrika, dll.

Yang menarik, dibandingkan pertumbuhan industri nasional pada tahun 2019 yang sebesar 5,02 persen pertumbuhan industri kosmetik pada tahun yang sama menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi yaitu sebesar 7,23 persen.

Potensi Pasar Kosmetik Halal

Tumbuhnya permintaan akan produk-produk halal di berbagai negara baik yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maupun negara dengan penduduk Muslim minoritas membuat permintaan terhadap produk kosmetik halal juga terus bertambah. Saat ini, beberapa produk kosmetik industri besar yang memiliki sudah sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) seperti Wardah, Sari Ayu, Zoya cometics, dan Make Over sudah mengekspor produk-produknya ke negara Malaysia dan Timur Tengah.

Dalam laporan tahunan oleh State of the Global Islamic Economy Report 2020/21 yang diterbitkan oleh Dinar Standard menunjukkan bahwa belanja kosmetik oleh Konsumen Muslim di seluruh dunia mencapai angka US$66 miliar pada 2019, pertumbuhan sebesar 3,4% dibandingkan tahun 2018. Pada tahun 2020, terdampak pandemi Covid-19 belanja Konsumen Muslim diperkirakan turun 2,5%, mencapai $64 miliar, tapi diprediksi akan tumbuh mencapai $76 miliar pada tahun 2024 dengan tingkat CAGR 5 tahun sebesar 2,9%.

Produsen yang bersertifikat halal selama setahun terakhir juga terus tumbuh, seperti halnya di industri kosmetik perusahaan yang tertarik untuk memasuki pasar minoritas Muslim dan mayoritas Muslim, terutama di Indonesia, Malaysia, dan India. Indonesia diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan bagi kosmetik bersertifikat halal, dengan negara lebih dari 270 juta penduduk membutuhkan label halal pada tahun 2024.

Hal ini saat konsumen mulai beradaptasi dengan ‘new normal’ penjualan mulai pulih, dengan e-commerce sebagai pendorong utama penjualan. Brand yang tidak memanfaatkan keunggulan penjualan secara online yang kuat akan ‘dipaksa’ untuk meningkatkan e-commerce dan pemasaran digital mereka untuk lebih terhubung dengan konsumen.

Brand kosmetik halal juga telah beradaptasi dengan cara yang sama, sebagian dengan memanfaatkan permintaan konsumen untuk mendukung kemandirian merek dan dengan pemasaran dalam bahasa lokal, terutama di Asia Tenggara. Brand juga harus merespon situasi pandemi dengan meluncurkan rangkaian produk yang mencerminkan tren konsumen baru.

Pembatasan pergerakan akibat pandemi seperti lockdown atau PPKM di Indonesia berdampak secara dramatis mempengaruhi penjualan produk kecantikan dan kosmetik, terutama make up. Namun beberapa inovasi produk baru telah diluncurkan. Penjualan kosmetik dan parfum turun masing-masing sebesar 55% dan 75%, dengan pemulihan yang lambat akibat kewajibak untuk pemakaian masker diperkirakan akan berlanjut.

Tapi L’Oréal Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat dengan inovasi produk perawatan kecantikan di rumah seperti facial mask dan pewarna rambut. Selain itu penjualan produk seperti perawatan mata dan riasan mata juga tumbuh selama pandemi. Di Uni Emirat Arab, Yves Saint Laurent melakukan strategi dengan mengadakan konsultasi kecantikan online di situs webnya.

Sementara itu Wardah Indonesia meluncurkan krim wajah bersertifikat halal untuk melindungi terhadap cahaya biru dari layar (terutama smartphone) dengan melihat kebiasaan baru orang yang menghabiskan lebih banyak waktu online melalui smartphone di rumah karena COVID-19. Merek kosmetik Halal Rose All Day, yang juga berbasis di Indonesia, meluncurkan Kit ‘New Normal’, termasuk masker dan pembersih tangan.

Sinyal Peluang Kosmetik Halal

Berikut adalah beberapa peluang pasar yang bisa diciptakan untuk memasuki pasar kosmetik halal seperti dikutip dari laporan tahunan State of the Global Islamic Economy Report 2020/21.

1. Brand kosmetik halal yang sudah mapan maupun sedang berkembang harus bertumpu pada kepemilikan dan produksi lokal.

Tren lokalisasi telah meningkat popularitasnya karena pandemi, dengan sinyal dukungan dari konsumen untuk brand skala kecil dan menengah dengan membeli produk lokal. Sementara strategi lokalisasi brand ini memiliki keuntungannya, ini juga ada kekurangannya yaitu membatasi merek untuk memasuki pasar internasional, kecuali jika sumber bahan dan seluruh rantai pasokan dikembangkan di tingkat domestik.

2. Kosmetik halal merek harus mengadopsi dan menekankan inklusivitas sebagai respon terhadap kebutuhan wanita dari etnis yang berbeda akan produk kecantikan.

Merek kosmetik, apakah bersertifikat halal atau tidak, harus mampu menanggapi isu politik dan sipil atas tuntutan masyarakat untuk lebih inklusif dalam menawarkan produk dan pemasaran. Perusahaan kosmeti multinasional telah mencoba untuk mengubah citra produk untuk menghindari respon negatif dari konsumen. Sementara perusahaan baru harus memiliki inklusivitas bawaan ke dalam DNA merek mereka.

3. Pertumbuhan sinergi antara kosmetik halal dan brand fashion Muslim.

Produk baru yang sedang diluncurkan kini mengaburkan batas antara aksesoris fashion Muslim dan kosmetik halal, seperti aplikator make up untuk pemakai hijab. Brand fashion Muslim juga bermitra dengan brand kosmetik halal dengan cara membuat kedua jenis produk mereka dijual di situs web mereka.

4. Rencana Aturan di Indonesia tentang kewajiban labelisasi halal akan memberikan dorongan kosmetik halal memasuki basis konsumen dunia dunia.

Aturan yang mewajibkan labelisasi halal untuk kosmetik di Indonesia memang masih dilakukan sedang bertahap. Namun, produsen dalam negeri dan internasional sudah bersiap untuk berkembang di pasar yang menguntungkan ini.

5. Brand Kosmetik Indi mulai bermunculan, tidak hanya bersertifikat halal tetapi juga menyatakan cruelty-free (ini menyangkut perlakuan buruk terhadap hewan yang dijadikan kelinci percobaan untuk bahan kosmetik tertentu), vegan, dan organik.

Konsumen kini semakin menuntut kosmetik yang cruelty-free, organik, alami, dan vegetarian. Merek kosmetik halal dengan lebih dari satu logo dan sertifikasi telah mampu menarik konsumen dengan basis yang lebih luas.

* Disarikan dari berbagai sumber


Berikan bintang kamu
[Total: 2 Rata-rata: 4.5]

Bagikan artikel ini





Berlangganan
Beritahu tentang
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar